Proyek Akhir — Kelompok 5

Analisis pengaruh pengeluaran per kapita terhadap kemiskinan di Jawa & Sumatra

Analisis Data Statistik  ·  Program Studi Informatika
Universitas Al-Azhar Indonesia  ·  Dosen: Tri Aji Nugroho, S.T., M.T.

Kelompok
Kelompok 5
MR
Muhammad Raafi Putra Arya
0102525009
ZF
Zhillal Fathurahman
0102525020
PP
Panca Pamungkas
0102525013
RA
Raya Aulia Abdilah
0102525016
Tahap 1  -  Problem Definition

Definisi masalah

Pulau Jawa dan Sumatra merupakan pilar utama perekonomian nasional. Proyek ini mengevaluasi secara komprehensif seluruh 8 dimensi indikator pada data riil BPS guna memetakan faktor dominan pemicu kemiskinan menggunakan pendekatan Regional Profiling dan Standardized Feature Importance untuk mendukung Evidence-Based Policy.

💡

Q1 — Validasi daya beli

Apakah Pengeluaran per Kapita secara signifikan menjadi penentu linear utama tingkat kemiskinan di Pulau Jawa dan Sumatra?

📊

Q2 — Faktor dominan

Faktor manakah yang menjadi penentu utama dalam memengaruhi tingkat kemiskinan di masing-masing wilayah (Jawa dan Sumatra)?

H0 — Hipotesis nol
Tidak ada hubungan linear antara Pengeluaran per Kapita dan Persentase Kemiskinan.
H1 — Hipotesis alternatif
Terdapat hubungan linear negatif signifikan antara Pengeluaran per Kapita dan Persentase Kemiskinan.
Tahap 2 & 3  /  Data

Pengumpulan & inspeksi data

273
Total observasi
15
Kolom
8
Dimensi indikator
Pulau Jawa
119
kabupaten / kota
Pulau Sumatra
154
kabupaten / kota
✅ Validasi lolos — jumlah baris melampaui batas minimum proyek akhir (>200 baris)
Visualisasi Peta — Sebaran Tingkat Kemiskinan

Saiz radius menandakan besaran peratusan penduduk miskin di wilayah tersebut.

Tahap 4  /  EDA

Exploratory data analysis

Grafik 1 — Disparitas & Boxplot Kemiskinan
Kesimpulan grafik 1

Secara keseluruhan, meskipun Pulau Jawa dan Sumatra memiliki tingkat median kemiskinan yang relatif sama, Sumatra menunjukkan disparitas atau ketimpangan kemiskinan yang lebih tinggi dengan adanya beberapa wilayah yang memiliki persentase penduduk miskin sangat ekstrem dibandingkan dengan wilayah di Pulau Jawa.

Grafik 2 — Heatmap Korelasi Pearson
Kesimpulan grafik 2

Variabel Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp) memiliki koefisien korelasi negatif terkuat terhadap Penduduk Miskin (%). Ini menunjukkan adanya hubungan linier terbalik yang solid — semakin tinggi kapasitas daya beli pengeluaran masyarakat, tingkat kemiskinan dipastikan turun.

Tahap 5  /  Modeling

Pemodelan statistik & hasil

📐 Korelasi Pearson (Q1 — validasi daya beli)

Pulau Jawa
r = −0.4152
p-value = 0.000003
✓ Signifikan
Pulau Sumatra
r = −0.2824
p-value = 0.000388
✓ Signifikan
✅ Tolak H0 — daya beli terbukti menurunkan kemiskinan di kedua pulau

📉 Regresi linear berganda (Q2 — faktor dominan)

Pulau Jawa
R² = 0.219
Faktor dominan:
Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp)
Pulau Sumatra
R² = 0.125
Faktor dominan:
Pengeluaran per Kapita + Sanitasi Layak
Kesimpulan tahap 5

Daya beli adalah faktor utama penentu kemiskinan di kedua wilayah. Di Jawa, kebijakan fokus pada peningkatan daya beli. Di Sumatra, selain daya beli, sanitasi layak juga perlu mendapat perhatian khusus.

Tahap 6  /  Interpretasi

Interpretasi akhir & kesimpulan strategis

Evidence-based policy recommendations untuk Jawa dan Sumatra.

Grafik 3 — Feature importance Jawa vs. Sumatra

Nilai negatif (kiri) menekan kemiskinan, nilai positif (kanan) memicu kemiskinan.

1
Jawaban Q1 — validasi instrumen daya beli
Hipotesis H1 terbukti. Analisis statistik menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara Pengeluaran per Kapita dengan kemiskinan. Peningkatan daya beli masyarakat secara konsisten menurunkan angka kemiskinan di Jawa dan Sumatra.
2
Jawaban Q2 — faktor dominan per wilayah
Pulau Jawa
Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp)
Kebijakan di Jawa sangat responsif terhadap peningkatan kualitas SDM. Fokus pada pendidikan terbukti menjadi penentu utama stabilitas ekonomi wilayah.
Pulau Sumatra
Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp)
Dinamika kemiskinan di Sumatra sangat dipengaruhi oleh ketersediaan lapangan kerja. Penurunan kemiskinan memerlukan stimulus di sektor pasar kerja riil.
3
Kesimpulan profiling wilayah
Rekomendasi kebijakan berbasis bukti
  • Analisis menunjukkan perbedaan karakteristik sosio-ekonomi yang nyata antara Jawa dan Sumatra.
  • Di Jawa, profil kemiskinan lebih dipengaruhi oleh Pengeluaran per Kapita — urgensi peningkatan kapasitas modal manusia.
  • Di Sumatra, profil kemiskinan lebih sensitif terhadap Pengeluaran per Kapita — urgensi stabilitas ekonomi makro.
  • Kebijakan penanggulangan kemiskinan harus disesuaikan dengan karakteristik unik masing-masing wilayah — bukan pendekatan seragam.

Terima Kasih

Proyek analisis data statistik ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah terkait. Semoga visualisasi dan interpretasi ini memberikan wawasan yang mendalam serta bermanfaat bagi penelitian dan perumusan kebijakan ekonomi wilayah ke depannya.

Kelompok 5
Kembali ke Atas ⬆